Oleh : Dr. Rmb. A

Berdasarkan definisi dan pemahamannya, Ilmu lingkungan adalah Ilmu yang mempelajari aspek abiotik, biotik dan juga sosio-kultural sebagai suatu keseluruhan dalam kajiannya. Alam dan Manusia merupakan bagian dari kajian Ilmu Lingkungan. Alam semesta ini terdiri dari dua aspek utama, yaitu Alam Semesta Besar ( makrokosmik ) dan Alam Semesta Kecil ( mikrokosmik ). Alam Semesta Besar merupakan segala sesuatu yang berada di luar diri anak manusia, sedangkan Alam Semesta Kecil adalah manusia itu sendiri dengan semua elemen atom-atom maupun sub-atom serta energi dan ruang-ruang kosong penyusunnya.
Berdasarkan pada Sandika, 2022., Ilmu Pengetahuan warisan Leluhur Bangsa kita menyebutkan bahwa manusia memiliki 5 lapisan tubuh pada dirinya, yaitu :
- Tubuh fisik (Raga), dalam Islam disebut Jasmani.
- Tubuh halus/Tubuh Energi (Prana), Jasmani halus.
- Tubuh Mental-Pikiran, Hakikat
- Tubuh Kebijaksanaan, Tarikat
- Tubuh Kebahagiaan (Jiwa Murni/Sukma Sejati), Ruh Sejati, Makrifat.
Oleh karena itu pembelajaran yang baik adalah yang menyentuh kelima lapisan diri manusia tersebut, bukan yang hanya formalitas saja di alam fisik, akan tetapi harus yang lebih esensial sampai ke hakikatnya. Sehingga manusia memahami sesuatu bukan hanya dipermukaan akan tetapi sampai ke intinya. Cara belajar yang harus dilakukan dalam hal ini harus tenang, mendalam dan membutuhkan waktu, sehingga memang tidak bisa terburu-buru.
Melengkapi hal tersebut Berdasarkan pada Kozlowski, 2016 pengetahuan mengenai gelombang energi elektromagnetisme alami pada otak manusia yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perilaku manusia, kita dapat melakukan Improvisasi klinis dengan biofeedback EEG yang dapat dimonitor/dilacak hingga membaikkan regulasi neuron dalam fungsi dasarnya dengan menarik ritme yang mendasari mekanismenya. Resonansi Schumann membentuk loop umpan balik alami dengan pikiran / tubuh manusia. Otak dan tubuh kita berkembang di biosfer, lingkungan EM (Elektromagnetic) terkondisi oleh pulsa siklik ini. Sebaliknya, denyut nadi ini bertindak sebagai “penggerak” otak kita, dan juga berpotensi membawa informasi. Proses fungsional mungkin diubah dan pola perilaku baru difasilitasi melalui jaringan penghambatan otak dan jaringan umpan balik rangsang. Sehingga berdasarkan hal tersebut dapat dilakukan pengaturan gelombang otak untuk kesehatan manusia, atau sebaliknya, dengan alat-alat biofeedback EEG dapat dijadikan sebagai senjata psikis untuk mengacaukan gelombang otak manusia, atau untuk alat pengontol pikiran melalui metode resonansi atau jamming.
Gelombang DELTA berkisar (antara 0-4 Hz). Delta dikaitkan dengan tidur nyenyak. Di meditasi terdalam dan tidur tanpa mimpi, gelombang Delta dihasilkan. Masing-masing frekuensi gelombang otak memiliki fungsi penting. Gelombang DELTA memberi suspense keberadaan eksternal dan memberikan perasaan damai yang paling mendalam. Di Selain itu, frekuensi tertentu dalam kisaran delta memicu pelepasan hormon pertumbuhan bermanfaat untuk penyembuhan dan regenerasi. Inilah sebabnya mengapa tidur, pemulihan yang mendalam tidur sangat penting untuk proses penyembuhan (Kozlowski, 2016).
Gelombang THETA ( antara 3.5-7.5Hz) (4-7 siklus per detik) paling sering terjadi dalam tidur tetapi juga dominan dalam keadaan mediasi terdalam (tubuh tertidur / pikiran terjaga). Yang optimal level untuk pemikiran mendalam adalah ranah Theta ini. Di Theta, indera kita ditarik dari dunia luar dan fokus pada mindscape, berasal dari dalam sinyal. Gelombang theta dikaitkan dengan misteri, sulit dipahami dan luar biasa ranah yang bisa kita jelajahi. Keadaan senja itulah yang biasanya hanya kita alami sekilas ketika kita bangkit dari kedalaman delta setelah bangun, atau tertidur tidur. Dalam theta kita berada dalam mimpi terjaga, pencitraan jelas menyala sebelum mata pikiran dan kita menerima informasi di luar kesadaran normal kita kesadaran. Theta juga telah diidentifikasi sebagai pintu gerbang ke pembelajaran dan memori. Meditasi theta meningkatkan kreativitas, meningkatkan pembelajaran, mengurangi stres dan terbangun intuisi dan keterampilan persepsi ekstrasensor lainnya (Kozlowski, 2016).
Gelombang ALPHA (7.5-13Hz) (7-13 siklus per detik) hadir selama bermimpi dan cahaya meditasi ketika mata tertutup. Semakin banyak neuron yang dibalas frekuensi ini, gelombang alfa berputar secara global di seluruh korteks. Ini menginduksi relaksasi yang dalam, tetapi tidak cukup meditasi. Di Alpha, kami mulai mengakses kekayaan kreativitas yang terletak tepat di bawah kesadaran kita. Itu adalah gateway, titik masuk yang mengarah ke kondisi kesadaran yang lebih dalam. Alpha juga merupakan rumah frekuensi jendela yang dikenal sebagai Resonansi Schumann, yang merupakan frekuensi resonansi medan elektromagnetik bumi. Gelombang SR merambat dengan redaman kecil di sekitar planet ini. Ketika kita sengaja menghasilkan gelombang alfa dan masuk ke resonansi dengan frekuensi bersahaja itu, kita secara alami merasa lebih baik, segar, selaras, selaras. Faktanya, ini adalah sinkronisasi lingkungan (Kozlowski, 2016).
Gelombang BETA (14-30Hz) (14 siklus per detik dan di atas) mendominasi keadaan bangun normal kita kesadaran ketika perhatian diarahkan pada tugas-tugas kognitif dan dunia luar. Gelombang beta berkisar antara 13-40 Hz. Gamma (di atas 30 Hz) mewakili hyperarousal. Gelombang Beta dikaitkan dengan konsentrasi puncak, tinggi kewaspadaan dan ketajaman visual. Pemenang Hadiah Nobel, Sir Francis Crick dan lainnya para ilmuwan percaya bahwa frekuensi beta 40Hz mungkin menjadi kunci untuk tindakan kognisi (Kozlowski, 2016).
Terdapat hubungan harmonis antara bumi dan pikiran / tubuh kita. Bumi merupakan medan iso-elektrik frekuensi rendah. Medan magnet bumi dan Medan elektrostatik yang muncul dari tubuh kita terjalin erat satu sama lain. Ritme internal kita berinteraksi dengan ritme eksternal, memengaruhi keseimbangan diri, pola EM (Electromagnetic) kita, kesehatan, dan fokus mental. Gelombang SR (Schumman Ressonance) mungkin membantu mengatur jam internal tubuh kita, memengaruhi pola tidur / mimpi, pola gairah, dan sekresi hormon. Ritme dan denyut otak manusia mencerminkan sifat-sifat resonansi rongga terestrial, yang berfungsi sebagai pandu gelombang. Frekuensi alami ini denyutannya bukan angka yang pasti, tetapi rata-rata pembacaan secara global, seperti halnya pada alat seperti EEG yang juga adalah rata-rata bacaan nilai gelombang otak secara global. SR sebenarnya berfluktuasi, seperti gelombang otak, karena lokasi geografis, petir, suar matahari, ionisasi atmosfer dan siklus harian (Kozlowski, 2016).
Maka berdasarkan pada Kozlowski, 2016, kita perlu mengkondisikan lingkungan sekitar untuk supaya efektif dan efisien dalam belajar yaitu harus yang mengarahkan gelombang otak ke tahap yang paling efektif untuk belajar, yaitu tahap frekuensi gelombangn otak Theta dan Alpha.
Sedangkan dalam teori kecerdasan manusia berdasarkan pada Gardner 2020, 2011a dan 2011b, serta dalam Morgan, 2021 terdapat 9 tipe kecerdasan manusia, dan 4 macam pola pikir manusia, 9 tipe kecerdasan yaitu :
- Kecerdasan Linguistik-Verbal (Bahasa): Kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif, baik lisan maupun tulisan, termasuk keterampilan berbicara dan menulis.
- Kecerdasan Logis-Matematika: Kecerdasan dalam menganalisis masalah secara logis, menemukan pola, melakukan operasi matematika, dan penyelidikan ilmiah.
- Kecerdasan Visual-Spasial: Kemampuan berpikir dalam bentuk visual, membayangkan objek (3D), dan akurat dalam menangkap arah serta ruang.
- Kecerdasan Kinestetik-Jasmani: Ketangkasan dalam menggunakan seluruh atau sebagian tubuh untuk memecahkan masalah, melakukan tarian, atau olahraga.
- Kecerdasan Ritme / Musikal: Kemampuan mengenali, membedakan, mengubah, dan mengekspresikan nada, ritme, dan suara.
- Kecerdasan Interpersonal (Sosial): Kecerdasan dalam memahami emosi, motivasi, dan niat orang lain, serta berinteraksi secara efektif.
- Kecerdasan Intrapersonal (Diri Sendiri): Kemampuan memahami diri sendiri secara mendalam, meliputi perasaan, tujuan hidup, dan motivasi diri.
- Kecerdasan Naturalis: Kepekaan dan kecintaan terhadap alam, lingkungan, hewan, dan tumbuhan.
- Kecerdasan Eksistensial: Kemampuan merenungkan pertanyaan mendalam tentang eksistensi manusia, seperti makna hidup, tujuan hidup, dan kematian, lebih kea rah kecerdasan Spiritual.
Kemudian manusia juga memiliki 4 macam pola pikir yaitu pola pikir Sekuensiel Konkrit, Sekuensiel Abstrak, Acak Konkrit dan Acak Abstrak. Serta memilik 3 gaya belajar yaitu gaya belajar Audiotorik, Visual atau Kinetik.
Ilmu Lingkungan dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan melakukan analisis “Amdal pada diri anak” dengan memperhatikan apa tipe kecerdasan anak yang dominan, apa gaya belajar anak yang dominan, apa pola pikir anak yang dominan, lalu bagaimana watak dan karakter anak, kemudian juga bagaimana kondisi lingkungan alam disekitar tempat tinggal anak dan bagaimana kondisi keluarga anak tersebut. Setelah diketahui maka anak dapat dibimbing secara privat dengan baik, dengan catatan anak juga mau untuk dimbimbing. Karena Ilmu sehebat apapun kalau yang dibimbing tidak sepenuh hati dan tidak “merendahkan cangkir” nyam aka tidak akan bisa masuk, keberkahan dari Ilmu itu sendiri menjadi tidak ada. Pembelajaran yang dilakukan harus meliputi 5 lapis tubuh manusia, dan untuk itu memang diperlukan waktu.
Demikian, Semoga Bermanfaat.
Referensi
Gardner, H. (2011a). Multiple intelligences: The first thirty years. HarvardGraduate School of Education. https://howardgardner01.files.wordpress.com/2012/06/intro-frames-of-mind_30-years.pdf
Gardner, H. (2011b). Frames of mind: The theory of multiple intelligences.New York: Basic Books.
Gardner, H. (2020). A synthesizing mind: A memoir from the creator of multiple intelligences theory. Cambridge, MA: The MIT Press.
Kozlowski, M., 2016, Extrasensory Perception Phenomena : From conciusness to life,Researchgate(internet),<https://www.researchgate.net/publication/299402030_Extrasensory_Perception_Phenomena?enrichId=rgreq91a0a96dedf3675b5ac246d72c98bca5XXX&enrichSource=Y292ZXJQYWdlOzI5OTQwMjAzMDtBUzozNDMyMDE3NDg2Njg0MTlAMTQ1ODgzNzA4MTYyNw%3D%3D&el=1_x_2&_esc=publicationCoverPdf> (diakses 11 April 2020)
Morgan, H. (2021). Howard Gardner’s Multiple Intelligences Theory and his Ideas on Promoting Creativity. In F. Reisman (Ed.), Celebrating Giants and Trailblazers: A-Z of Who’s Who in Creativity Research and Related Fields (pp.124-141). London, UK: KIE Publications.
Sandika, I.K., 2022. Sedulur Papat Kalima Pancer : Ilmu Rahasia Kelahiran dan Kematian. Javanica, CV Jiwa Jawa Jaya, Jakarta.
