Berbicara mengenai Lingkungan, maka tidak akan lepas dari aspek Abiotik, Biotik dan juga Sosio-Kultural, ketiganya saling mempengaruhi satu dengan yang lain, dalam penelitiannya, Root et al., (2003) yang mengemukakan bahwa selama lebih dari 100 tahun, suhu rata-rata permukaan bumi telah meningkat kurang lebih sebesar 0.6º yang juga dikuatkan oleh Alan Pounds et al., (2006) yang mengemukakan bahwa sejak tahun 1970-an, di daerah-daerah tropis, banyak hutan-hutan yang berubah menjadi lebih hangat dan juga di daerah dingin terdapat banyak gunung-gunung es yang perlahan mulai meleleh, kemudian di daerah perkotaan-perkotaan besar yang terbangun, Setiap klaster-klaster kota akan menghasilkan kubah panas yang menyebabkan fenomena hawa panas perkotaan atau yang dikenal dengan Urban Heat Island (UHI) ( Fan et al., 2017).

           Pemanasan suhu permukaan masih terus berlanjut dari waktu ke waktu bahkan diprediksi semakin tinggi kenaikannya (Wibowo et al., 2013, 2017 dan 2022)). Proses peningkatan suhu atau temperatur juga akan mempengaruhi keseimbangan fluktuasi persipitasi dan fluktuasi gelombang panas, yang mempengaruhi proses-proses dan produktivitas di dalam ekosistem. (Xu et al., 2016). Kemudian berdasarkan Song et al., (2016) diketahui bahwa yang menyebabkan pemanasan global adalah spektrum inframerah yang terperangkap Gas Rumah Kaca (GRK), penyebab panas yang sama dengan yang terjadi di fenomena UHI, dengan rerata global sebesar 158 W/m2. Hal tersebut karena inframerah adalah komponen utama dari cahaya matahari (Kochevar et al., 2007 cit Schroeder et al., 2008). Kemudian Zhang et al., (2016) mengemukakan bahwa pemanasan global yang disebabkan oleh spektrum gelombang panjang bersuhu tinggi (inframerah) akan meningkatkan suhu tanah sebesar 1,90º C yang 31% lebih tinggi daripada peningkatan suhu di udara, yaitu yang hanya sebesar 1.45º C.

           Hawa panas berlebihan pada suatu lingkungan selain berdampak pada Kenyamanan Hidup Manusia secara langsung melalui gangguan thermal, berdasarkan Zhang et al., (2016) peningkatan suhu tanah juga menyebabkan peningkatan respirasi tanah sebesar 28% dan akan mempengaruhi reaksi-reaksi biokimia di dalam tanah maupun di dalam tubuh mikroorganisme yang hidup di tanah, karena berdasarkan pada Chang et al., (2013) diketahui bahwa reaksi biokimia sel dapat dipengaruhi oleh iradiasi inframerah. Kemudian juga diperkuat oleh Van Kempen, (2001) yang intinya mengemukakan bahwa reaksi biokimia dipengaruhi oleh iradiasi/penyinaran inframerah. Ikatan-ikatan kimia pada molekul organik menyerap atau menghasilkan pancaran inframerah saat status vibrasi (getaran) berubah, yang itu akan mempengaruhi reaksi-reaksi biokimia. Hal tersebut juga dikuatkan oleh Max Planck pada tahun 1900 yang tercantum dalam Bunjali, (2002) yang menyatakan bahwa di dalam Cahaya terdapat paket kecil energi (kuanta) yang disebut foton. Kesemua hal tersebut tentu saja akan mempengaruhi dinamika aktivitas kehidupan.

           Berbicara mengenai tanah maka pasti juga akan terkait dengan Sistem Pertanian yang dilakukan oleh Manusia, dan jika ada gangguan pada Sistem Pertanaman Pertanian akibat dari terganggunya kualitas tanah akibat cuaca ekstrim, pemanasan global, UHI ataupun karena peningkatan serangan pathogen-pathogen HPT (Hama dan Penyakit Tumbuhan) yang menyebabkan Hasil Panen menurun atau bahkan tidak bisa panen sama sekali, maka tentunya juga akan berimbas negatif  pada manusia, menjadi rawan krisis pangan, ketahanan pangan menurun karena ketahanan lingkungan menurun yang berpotensi pada terjadinya kelangkaan pangan, rawan terjadi perebutan lumbung-lumbung pangan yang rawan menyebabkan terganggunya stabilitas dan keamanan Negara. Belum lagi ditambah potensi langkanya air murni layak konsumsi dan pakai (akan kita bahas di artikel selanjutnya) dan juga imbas kelangkaan energi dan BBM akibat perang Iran (akan kita bahas di artikel selanjutnya). Ketahanan Lingkungan Adalah sesuatu yang penting untuk dijaga dengan sebaik-baiknya.

           Sejatinya masih terdapat banyak potensi bahaya keamanan yang menarik untuk kita teliti dari waktu ke waktu, karena dari waktu ke waktu potensi bahayanya akan semakin meningkat, walau tidak terasa, sehingga akan lebih baik jika dari sekarang dibuat supaya potensi bahaya tersebut tidak terjadi atau paling tidak dapat diminimalkan peluang bahayanya atau kejadian negatifnya tersebut dengan cara aplikasi pembangunan berwawasan dan berfilosofi lingkungan alam dan dengan Pembangunan yang mandiri dengan memperkecil atau bahkan melepaskan diri dari ketergantungan pada Negara lain, karena sejatinya hampir semua SDA ada di Indonesia, sehingga seharusnya Dunialah yang butuh Indonesia, bukan sebaliknya, kita harus berusaha menjadi Produsen Utama dan Pengolah Utama.

Demikian sedikit Analisa, kurang dan lebihnya mohon maaf, mari diskusi. (Dr. Rmb.A)

Referensi

Alan Pounds, J., Bustamante, M.R., Colona, L.A., Consuegra, J.A., L. Fogden1, M.P., Foster, P.N., La Marca, E., Masters, K.L., Merino-Viteri, A., Puschendorf, R., Ron, S.R., Sa´nchez-Azofeifa, G.A., Still, C.J., and  Young, B.E., 2006, Widespread Amphibian Extinctions from Epidemic Disease Driven by Global Warming, Nature (internet), Januari, 12 (439), hal. 161-167.

Bunjali, B., 2002, Struktur Atom, dalam Kimia Inti, Bandung : ITB, hal 1-8.

Chang H-Y, Shih M-H, Huang H-C, Tsai S-R, Juan H-F, et al. (2013). Middle Infrared Radiation Induces G2/M Cell Cycle Arrest in A549 Lung Cancer Cells, PLoS ONE 8(1): e54117. doi:10.1371/journal.pone.0054117.

Fan,Y., Li,Y., Bejan,A., Wang,Y., & Yang,X., 2017, Horizontal Extent of The Urban Heat Dome Flow, Nature (internet), September,15, Scientific Report 7,1168.

Root, Terry L., Price, Jeff T., Hall, Kimberly R., Schneider, Stephen H., Roseiweig, C., Alan Pounds, J., 2003, Fingerprints of Global Warming on Wild Animals and Plants, Nature (internet), Januari, 2 (421) , 6918., ProQuest, hal. 57-60.

Schroeder, P., Lademann, J., Darvin, M.E., Stege, H., Marks, C., Bruhnke,S., Krutmann, J., 2008., Infrared Radiation-Induced Matrix Metalloproteinase in Human Skin : Impications for Protection. Journal of Investigative Dermatology. 128, hal 2491-2497; doi:10.1038/jid 2008.116 published online 1 may 2008.

Van Kempen, T., 2001, Infrared Technology In Animal Production, World’s Poultry Science Association. USA.

Wibowo, A., Rustanto, A., 2013, Spatial-Temporal Analysis of Urban Heat Island in Tangerang City, Indonesian Journal of Geography (IJG) Vol.45 no.2 (internet), Desember,2.

Wibowo, A., Semedi, J.M., & Salleh, K.O., 2017, Spatial Temporal Analysis of Urban Heat Hazard on Education Area (University of Indonesia), Indonesian Journal of Geography (IJG) Vol.49 no.1, june (1-10)

Wibowo, A., Pramudyasari, T., Adi, S.P., Saraswati, R., Ash-Shidiq, I.P.,  2022, 30-Year Spatial-Temporal Analysis of Air Surface Temperature as Climate Mitigation, Indonesian Journal of Geography (IJG) Vol 54, no.2 : 280-289

Xu, Z., Hou, Y., Zhou, G.S., 2016, Ecosystem Response To Warming And Watering In Typical And Dessert Streppes, Nature (internet), Oktober, Scientific Report 6, 34801.

Zhang, H., Wang, E., Zhang, Z., 2016, Rising Soil Temperature In China And Its Potential Ecological Impact, Nature (internet), Oktober, Scientific Report 6, 35530.